http://teronggosong.com/2010/11/11/ihtiroos/
Ihtiroos
By Yahya C. Staquf <http://teronggosong.com/community/members/staquf/> at
11 November 2010
Pada suatu missi pengajian, Kyai Bisri Mustofa mengajak serta seorang
santri senior. Menjelang sampai ke tempat acara, Kyai Bisri menyuruh sopir
berhenti di sebauh warung makan. Hidangan dipesan, tapi si santri senior
menolak ikut makan.
"Masih kenyang", katanya. Kyai Bisri membiarkannya.
Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih
dahulu mempersilahkan menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja Kyai
Bisri menolak.
"Baru saja makan! Nanti saja".
Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan, tapi Kyai Bisri tetap
menolak.
"Masih kenyang".
Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak
ikut makan di warung. Kyainya pura-pura tidak tahu.
Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa
beruntung.
"Lumayan buat ganjal perut", pikirnya.
Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, Kyai Bisri
tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan!
Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari, karena besek berkat
yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak
diserahkan.
Menurut Imam Ghozali (Asy Syaikh Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al
Ghozzali Ath Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun
nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos 'anin nawaahiy (memelihara
diri dari larangan). Apa beda keduanya?
Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan sehingga pukulan itu
luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam
benteng sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu
manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.
Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, Kyai Bisri Mustofa mewajibkan
diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan,
meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan
makan. Itu adalah ihtiroos 'anith thoma', supaya tidak berharap-harap
(thoma') akan suguhan si tuan rumah.
Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah
Kyai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming
bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kyai Bisri memborong
banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup
untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan depan rumah.
Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan
Datsun keluaran tahun '60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak
yang tahu rahasianya: ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu
mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya: cuma body yang
mulus, sedangkan mesinnya bodhol!
Apa tujuannya memborong "kereta-kereta tak berguna" macam itu?
"Untuk dipamerkan!" kata Kyai Bisri.
Pameran dalam rangka apa?
"Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya".
Apa untungnya dianggap kaya?
"Supaya tak ada yang berani menawariku uang".
Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?
"Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…"
ainun najib
qıɾɐu unuıɐ
[Non-text portions of this message have been removed]
__._,_.___
No comments:
Post a Comment